Saat ini sudah lewat tengah malam ketika aku menuliskan blog-ku ini. Sebulan lebih aku tak menulis di blog, dikarenakan sibuk dan repot (sudah biasa menjadi makanan sehari-hari, jadi tak usah heran ^^; Hehehe!). Apalagi di kantor ada anak baru jadi harus mengajarkan dari awal, plus mengajarkan temanku untuk ikut mengajar juga. (Bingung? Semoga tidak…) Lupakan masalah kantor (karena sudah bisa ditebak, pulang kantor tepar karena rajin bekerja demi segenggam berlian. Lebay, lebay!). Kini, kita beralih ke topik yang sesuai dengan judulku.
Pernahkan kita memikirkan untuk apa kita hidup? Untuk bersenang-senang sajakah? Tentu saja itu tak sepenuhnya benar. Melakukan kehendakNyalah yang menjadi tujuan utama kita. Sebagai seorang anak, apa yang sudah kamu lakukan untuk orang tuamu? Pernahkah kamu membuat mereka bangga? Jujur, aku pribadi masih [merasa] belum. Kenapa? Karena aku belum sepenuhnya membahagiakan mereka. Bukan mau pamer, tapi aku ‘baru’ melakukan hal-hal ini sebagai seorang anak:
- Berusaha menyelesaikan sekolahku dengan nilai yang cukup memuaskan (karena tak semuanya mata pelajaran kusukai).
- Masuk kuliah dengan pilihan jurusan sesuai dengan keinginanku (DKV di UK Petra Surabaya), namun aku berusaha untuk menyelesaikannya tepat waktu (tak ada yang namanya mengulang mata kuliah, apalagi molor untuk kelulusan), saat wisuda aku yakin mereka (kedua orang tuaku) merasa sangat bangga karena anak semata wayangnya sudah jadi sarjana 
- Kerja di bidang yang kusukai dan berusaha untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.
- Menghibur orang tua di kala mereka butuh curhat (meski hanya melalui telephone).
- Walau hanya sedikit, tapi aku usahakan untuk setiap bulannya mengirimkan ‘sesuatu’ untuk orang tuaku (meski secara nalar aku merasa itu tak berarti untuk mereka).
Well, apalagi? Ada lagi yang belum kutuliskan di sini, tapi aku tak mau membahasnya. Yang penting, puji Tuhan tak sampai ada penyesalan
Puji Tuhan juga tak terlambat! Maka, kadang kalau mengingat masa-masa itu, aku merinding sendiri. Nyaris saja, menghancurkan masa depan dan membuat hidup suram. Makanya, puji Tuhan karena pertolonganNya tak pernah terlambat. Haleluya! ^o^
Kenapa tiba-tiba aku menuliskan hal seperti ini? Bagi sebagian orang mungkin tak penting, tapi bagiku penting. Apalagi aku sebagai seorang anak, anak tunggal tepatnya, akan sangat menyesal kalau sampai mengecewakan orang tuaku. Membuat Mamaku menangis saja aku sudah merasa tak enak! Seperti anak kebanyakan, aku pernah bertengkar dengan Mama, apalagi saat-saat belum tobat
Setelah tobatpun pernah membuatnya menangis, yang paling kuingat adalah ketika aku meminta izin untuk KP (Kerja Profesi, salah satu mata kuliah) di Jakarta. Well, itu masa-masa yang berat bagiku, karena sudah deal dengan salah satu perusahaan di Jakarta, eh… Mama malah tak setuju! Bagaimana tak pusing memikirkannya, coba? Puji Tuhan semuanya beres tepat waktu ^__^
Membahagiakan kedua orang tuaku, itu salah satu cita-citaku (dari sekian ribu yang kuingin capai). Maka, setiap langkah yang kuambil selalu kupikirkan masak-masak, jangan sampai melakukan kesalahan (apalagi kesalahan fatal!). Meminta Tuhan Yesus untuk memberikan hikmat padaku dalam setiap bertindak. Aku ingin membuat mereka bahagia, namun aku sendiri juga bahagia
Tak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! Amien!
Menuliskan hal ini lumayan berat, lho! Karena, ada saja berita-berita yang tak sedap di telingaku (apalagi bulan-bulan ini ada saja yang ‘aneh’ terjadi). Maka, aku ingin menuliskan suara hatiku. Sudahkan engkau membuat orang tuamu bahagia? Pikirkan baik-baik dan renungkanlah
God bless you all!